Pages

Wednesday, March 12, 2014

Diskusi tentang Kafir

Moh Mahfud MD  ;   Guru Besar Hukum Konstitusi

Selasa, 28 Januari 2014, saat bertemu wartawan Richard Susilo di Tokyo, saya ditanya tentang istilah “kafir” yang saya lontarkan terhadap “siapa pun” yang melanggar peraturan dan hukum. Apakah tepat mengatakan kafir terhadap orang yang masih beragama Islam?

Richard Susilo adalah wartawan senior yang sampai sekarang bertempat tinggal di Tokyo sebagai kontributor beberapa media massa kita. “Saya dikatakan melakukan kolusi dan memainkan perkara saat jadi hakim. Saya bilang, siapa pun dia adalah kafir,” jawab saya. Saya tegaskan, banyak orang mengartikan kafir sebatas sebutan terhadap orang yang tidak beragama Islam. Padahal arti kafir yang sebenarnya adalah tidak tunduk terhadap kebenaran, suka melanggar aturan, termasuk melanggar hak dan martabat orang lain tanpa dasar.

Tak ada yang membantah bahwa kafir itu bukan hanya tidak memeluk agama tertentu, melainkan tidak tunduk terhadap kebenaran universal yang difirmankan Tuhan. Kafir itu, arti lughawi-nya, adalah ingkar atau menolak dan melawan; sedangkan arti ishthilakhi-nya adalah ingkar atau menolak dan melawan perintah untuk menganut dan menegakkan kebenaran. Dalam skala yang umum, melanggar peraturan atau hukum misalnya membunuh orang, merampok, memperdagangkan narkoba, dan menyebarkan berita tak berdasar yang merugikan nama orang lain, hal itu juga, termasuk dalam lingkup kekafiran.

Mengapa? Ya, karena menolak atau melawan terhadap perintah menegakkan kebenaran. Siapa pun, beragama apa pun, kalau melanggar hak dan martabat secara melawan hukum dan kebenaran, adalah kafir. Itulah sebabnya, orang yang masih resmi beragama Islam, tetapi tidak mengikuti hukum-hukumnya adalah kafir. Di dalam Alquran (QS Al- Maidah: 44) misalnya ditegaskan, “Barang siapa yang tidak berhukum terhadap apa-apa yang diperintahkan Allah, mereka termasuk golongan kafir”.

Tak ada yang membantah, kafir dalam ayat ini bukan hanya tertuju bagi orang yang tak beragama Islam, tetapi juga bagi siapa pun yang melanggar perintah Tuhan untuk berlaku benar seperti tidak memfitnah atau membuat berita-berita yang tidak berdasar. Itulah sebabnya berbagai negara muslim yang tidak memberlakukan hukum fikih tertentu, asal membuat hukum-hukum yang mengikuti perkembangan waktu (zamaan), tempat (amkaan), dan adat (awaa’id) tidak disebut kafir.

Yang kafir justru orang yang suka melanggar peraturan-peraturan umum dan nilai-nilai moral. Penghalusan pernah dikemukakan oleh Ibn Qoyyim dengan menyebut istilah kufur yang melahirkan berbagai anak cabang istilah seperti kufur dzimmah, kufur nikmah, dan sebagainya. Di negara Pancasila seperti Indonesia istilah kafir memang tak perlu dialamatkan kepada orang yang tidak beragama Islam, tapi juga harus ditujukan pada siapa pun, Islam dan tidak Islam, yang suka melanggar hukum dan melawan kebenaran universal yang difirmankan Tuhan.

Orang kafir juga orang yang berperilaku seperti binatang ternak yakni yang membutakan hati, mata, dan telinganya dari kebenaran sehingga berlaku dan membuat pernyataan yang tanpa bukti-bukti yang bisa dipertanggungjawabkan. Didalam Alquran (QS Al-A’raaf: 179) disebutkan, “Akan dicampakkan ke neraka jahanam dari banyak jin dan manusia yang punya hati, tetapi tidak digunakan untuk memahami kebenaran, punya mata, tetapi tidak digunakan untuk melihat kebenaran, dan punya telinga, tetapi tidak digunakan untuk mendengar kebenaran. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi.”

“Bung Richard, saya berani mengatakan, orang kafir itu menurut ajaran agama mana pun adalah orang yang ingkar terhadap kebenaran, bukan hanya orang yang tidak memeluk agama tertentu. Rujukannya ada di kitab suci, Hadits Rasul, dan buku-buku fikih al-Siyaasah,” kata saya kepada Richard Susilo di Hotel New Otani, Tokyo itu. Maka itu, siapa pun yang keberatan disebut kafir karena melanggar hukum dan menista martabat orang lain, dia harus membuktikan lebih dulu bahwa dirinya memang tidak melanggar hukum dan tidak melanggar hak dan martabat orang lain.

Kalau dia melakukan pelanggaran hukum serta hak dan kehormatan orang lain secara semena-mena, memang pantas disebut kafir dalam arti ingkar terhadap hukum dan kebenaran. Kalau tak mau disebut begitu, buktikan dulu bahwa apa yang dikatakannya benar. Saya memang sering serbarepot. Selama ini saya sudah berusaha menjaga tegaknya hukum dan menjaga martabat diri dengan cara sangat berhati-hati agar tak melanggar hukum dan martabat orang lain. Dalam berpolitik pun saya selalu menjaga diri agar sejauh mungkin tak menodai nilai-nilai moral dan etika publik.

Repotnya, kadang ada orang yang tanpa ombak dan tanpa angin, tiba-tiba menyerang kehormatan saya, mengatakan saya bermain atau berkolusi dalam satu kasus hukum. Kalau didiamkan, orang akan mengatakan bahwa saya benar berkolusi dan bermain. Kalau dilayani melalui polemik atau debat, saya bisa dibilang terlalu reaktif dan tak proporsional. Banyak yang menyarankan, kalau ada tudingan yang tak benar, tak usah ribut, serahkan saja kepada proses hukum. Itulah saran baik yang saya lakukan.

Sumber:  Koran SINDO

Syetan pun Tawarkan Surga

Rembang, NU Online
Pejabat Rais Aam PBNU KH Mustofa Bisri mengatakan, sesungguhnya syetan merupakan musuh yang paling nyata. Syetan mengiming-imingi manusia dengan surga, padahal itu neraka.

Kiai yang akrab disapa Gus Mus menyampaikan hal itu di hadapan jamaah pengajian Al-Ibriz, rutinan di aula Pondok Pesantren Raudlatu Tholibien Leteh, Rembang, Jawa Tengah, Jumat pagi (28/2).
Hakikatnya sejak zaman manusia pertama, syetan sudah berkomitmen menjerumuskan anak Adam agar masuk ke dalam neraka.

Kata Pengasuh pondok pesantren Raudlatu Tholibien Rembang itu, Syetan juga diberikan kebebasan untuk menggoda manusia, agar berbelok dari jalan yang lurus. “Tergantung kita sebagai manusia mau tetap patuh kepada Allah SWT, apa mau mendengarkan suara syetan.

Gus Mus juga mengatakan, jika syetan diizinkann untuk menggoda manusia, maka Allah juga menurunkan utusan untuk mengingatkan manusia melalui firman-firman-Nya. Tujuannya, agar tidak terjerumus ke jurang neraka.

“Sesungguhnya cara yang digunakan syetan untuk menggoda manusia, sangatlah lembut dan penuh tipu daya,” katanya. (Ahamd Asmu’i/Abdullah Alawi)

Siapa dan Ada Apakah dengan Yahudi dan Nasrani?

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgr3HsFc_hQXDyulzGH_VjYB5x_qaj-rOJOOQfajinu-dCjpIk2uGk85Z2MgAdfZb4p_cjXw9bD9YYS-qIlvPqT_Jf5JjFG4b8-9LtYH4Xf794dSHv0VFkYIBCjkdRrNlevSaZCxKHU6ek/s1600/Silsilah+Rasulullah+SAW0001.jpg
Hadits riwayat Ibnu Umar Ra. bahwa kaum Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraidhah selalu memerangi Rasulullah Saw., sehingga Rasulullah pun lalu mengusir Bani Nadhir dan membiarkan Bani Quraidhah sekaligus membebaskan mereka. Namun setelah itu Bani Quraidhah juga ikut memerangi, maka beliau pun lalu membunuh kaum lelaki mereka serta membagikan kaum wanita, anak-anak kecil berikut harta benda mereka di antara kaum muslimin. Kecuali mereka yang meminta perlindungan kepada Rasulullah Saw., maka beliau pun memberikan keamanan kepada mereka sehingga berimanlah mereka. Rasulullah Saw. juga mengusir orang-orang Yahudi Madinah seluruhnya, yaitu; Bani Qainuqa’ (kaum Abdullah bin Salam), Yahudi Bani Haritsah dan setiap orang Yahudi yang berada di Madinah. (Shahih Muslim no. 3312)

“Yahudi dan Nasrani Mengaku Anak Allah”

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya.” (QS.al-Maidah ayat 18). Namun Allah menolak pernyataan mereka.

Di Madinah, sekelompok orang Ahli Kitab datang kepada Nabi Muhammad Saw. Lalu beliau menyeru mereka agar masuk Islam dan meninggalkan kekufuran, tetapi mereka berkata:“Ya Muhammad, apakah kamu menakut-nakuti kami dengan siksaan Allah? Kami adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya.”

Maka turunlah ayat ini:“Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan: “Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasihNya.” (QS. al-Maidah ayat 18). Siapakah yang dimaksud dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani di sini?

Istilah Yahudi berasal dari kata hada, hudan, yahuda. Kata hada berarti bertaubat, karena mereka, umat Nabi Musa As., bertaubat dari kesalahannya menyembah anak unta dan kembali kepada kebenaran(QS.al-A’raf ayat 156).

Perkataan Yahuda dinisbatkan kepada anak-cucu Yahudza, anak tertua Nabi Ya’qub As., yang kemudian huruf dzal diganti dengan dal, sehingga menjadi Yahuda.

Namun kemudian mereka menyimpang dari kebenaran, dan sejak saat itulah kata Yahudi berkonotasi negatif, yakni menyimpang dari aturan-aturan yang ditetapkan Allah, baik aturan yang dibawa Nabi Musa As. maupun aturan yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

Makna lain kenapa disebut Yahudi? Karena mereka bersikap lemah lembut dan gemetar pada saat membaca kitab suci Taurat. Bahkan ada yang mengatakan, bumi dan langit bergetar ketika Allah Swt. memberikan Taurat kepada Nabi Musa As.

Nama lain orang-orang Yahudi adalah Israil. Kata Israil berasal dari bahasa Ibrani yang terdiri dari dua kata: Isra’, yang berarti “hamba” atau “kekasih”, dan Il, yang berarti “Allah”, sehingga Israil berarti “hamba Allah” atau “kekasih Allah”. Dan yang dimaksud dengan Israil pertamakali adalah Nabi Ya’qub As., seorang Nabi yang ikhlas berjuang di jalan Allah untuk mencapai ridhaNya.

Namun keturunan Nabi Ya’qub tidak semuanya bertindak sebagai kekasih Allah. Mereka lebih banyak yang ingkar kepada perintah Allah daripada menaatiNya.

Lalu apa yang disebut Nasrani? Kata nashraniberarti “penolong”, yaitu mereka (kaum hawariyyun, para pengikut setia) yang, ketika ditanya Nabi Isa As.apakah bersedia menolong agama Allah, mereka menjawab:“Kamilah penolong-penolong agama Allah (nahnu ansharullah).”(QS.ash-Shaff ayat 14).

Pendapat lain, mengapa mereka dinamakan Nasrani, karena mereka tinggal di daerah Nashiri, tempat Nabi Isa As. ketika berdakwah. Jadi, mereka adalah orang-orang dari Nashiri.

Semua betul kalau dikombinasikan, yaitu Nasrani semula adalah istilah untuk para pengikut setia Nabi Isa As. yang tinggal di daerah Nashiri. Mereka bersumpah setia sanggup menolong agama Allah.

Namun mereka kemudian mengaku sebagai anak Allah dan kekasih Allah, suatu kesesatan mereka dalam menafsirkan syari’at Allah yang diberikan kepada mereka.

“Orang-orang Yahudi berkata: “’Uzhair itu putra Allah.” Dan orang-orang Nasrani berkata: “Al-Masih itu putra Allah.” Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perbuatan orang-orang kafir terdahulu. Mereka dilaknat Allah, bagaimana mereka sampai berpaling?”(QS.at-Taubah ayat 30).

Itulah jawaban mengapa mereka mengaku menjadi anak Allah dan kekasihNya. Mereka mengingkari nabi-nabi mereka dan apa yang telah difirmankan Allah dalam kitab-kitabNya (Taurat dan Injil). Mereka mengikuti tradisi kaum kafir sebelum mereka, yaitu tradisi bangsa Mesir dan bangsa Yunani dan Romawi, yang dalam sistem ketuhanan mereka ada bapak dan anak. Karena itulah mereka dilaknat Allah.

Mengapa mereka bisa tersesat begitu jauh? Sebab, “Mereka menjadikan orang-orang alim dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (mereka juga mempertuhankan) al-Masih putra Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”(QS.at-Taubah ayat 31).

Sedang para alim dan rahib itu juga telah menyesatkan mereka dari jalan Allah. Yaitu kesesatan dengan perbuatan syirik, menganggap ada tuhan selain Allah.

Kembali pada ayat pertama, yaitu tentang pengakuan orang-orang Yahudi dan Nasrani bahwa mereka adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih Allah. Masih dalam ayat yang sama, Allah membalik logika mereka: “Katakanlah (hai Muhammad): “Mengapa Allah menyiksa kamu atas dosa-dosa kamu? (Kamu bukanlah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih Allah) tetapi kamu adalah (manusia) biasa diantara orang-orang yang diciptakanNya. Dia mengampuni siapa yang dikehendakiNya. Dan kepunyaan Allah lah kerajaan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya. Dan kepada Allah lah kembali (segala sesuatu).”(QS.al-Maidah ayat 18).

Logisnya, kalau mereka anak-anak Allah dan kekasih-kekasih Allah, tentu mereka akan disayang dan dilindungi, tetapi mengapa mereka malah disiksa? Berarti anggapan mereka salah total.Mereka disiksa Allah karena mereka telah banyak berbuat salah kepada Allah, telah ingkar dari perintah Allah.

Dosa-dosa kaum Yahudi diantaranya adalah menyembah anak lembu ketika ditinggal Nabi Musa As. di Gunung Thursina, tidak mau berperang dalam konteks bahwa saat itu mereka harus berperang karena perintah agama, membunuh para nabi, serta keingkaran-keingkaran lain kepada Allah dalam berbagai perbuatan. Begitu juga kaum Nasrani, mereka disiksa Allah atas dosa-dosa mereka, seperti menuhankan Nabi Isa As.

Allah masih menantang mereka, khususnya kaum Yahudi: “Katakanlah (hai Muhammad): “Hai orang-orang yang menganut agama Yahudi, jika kamu menyatakan bahwa sesungguhnya kamu sajalah kekasih Allah bukan manusia yang lain, harapkanlah kematian, jika kamu adalah orang-orang yang benar.”(QS.al-Jumu’ah ayat 6).

Logikanya, kalau kaum Yahudi itu kekasih Allah, cepatlah minta mati, supaya mereka nanti diberi surga di akhirat, daripada hidup dunia yang penuh penderitaan dan kesulitan. Namun nyatanya mereka takut mati, antara lain terbukti bahwa, sebagaimana disebut di atas, mereka takut berperang.

Sya'roni As-Samfuriy, Sumber: Majalah Alkisah